5 Hektar Lahan Kritis di Lereng Gunung Banyak Nyamplung & Sukun, Investasi 200 Tahun

Tampak depan kanan, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Perhutani, Masyarakat, KTH, LMDH dan Babinsa, ketika akan menanam pohon Sukun. ( Foto : Tim ).

Menanam Masa Depan Kolaborasi Hijau di Lereng Gunung Banyak, Desa Sumberjo

Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lahan, sebuah gerakan kolektif yang sarat makna lahir di lereng Gunung Banyak, tepatnya di RW 09, Desa Sumberjo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Pada Minggu, 5 April 2026, kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayah Perhutani ini berubah menjadi laboratorium hidup tentang bagaimana konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga.

Kegiatan penghijauan massal ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ini adalah wujud nyata dari program Perhutanan Sosial yang digagas oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Lestari bersama Pemerintah Desa Sumberjo dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Dua jenis tanaman unggulan dipilih: Nyamplung dan Sukun. Bukan tanpa alasan. Keduanya memiliki akar tunjang yang kuat, ideal untuk mencegah longsor di kawasan pemukiman yang rawan bencana.

Solusi Ekologis dan Ekonomis

Ketua KTH Hijau Lestari bersama Babinsa serta LMDH dan Masyarakat ketika menanam pohon buah Nyamplung.
Ketua KTH Hijau Lestari bersama Babinsa serta LMDH dan Masyarakat ketika menanam pohon buah Nyamplung.

Ketua KTH Hijau Lestari, Pak Rai, menjelaskan bahwa pemilihan pohon Nyamplung didasarkan pada riset ekologis jangka panjang. “Pohon ini mampu bertahan hidup lebih dari 200 tahun. Sistem perakarannya luar biasa, berfungsi sebagai penyangga tanah sekaligus penyimpan air tanah yang alami. Namun yang lebih menarik, biji Nyamplung dapat diolah menjadi bahan baku bio-solar, sebuah energi alternatif masa depan,” ujar Pak Rai di sela-sela penanaman.

Ibu Selvi Gibran dan Perempuan Indonesia Tanam Pohon di IKN

Sementara itu, pohon Sukun dipilih karena nilai produktifitasnya. Sebagai tanaman keras, Sukun tidak hanya memberikan keteduhan, tetapi juga menghasilkan buah yang bernilai ekonomi tinggi. “Kami tidak ingin warga sekadar menanam, lalu lupa. Kami ingin mereka memanen manfaatnya. Baik dari sisi lingkungan yang aman dari longsor, maupun dari sisi ekonomi melalui hasil buah dan turunan olahannya,” tambahnya.

Pada tahap awal, sebanyak 500 bibit pohon dengan tinggi rata-rata di atas 2 meter telah ditanam di lahan seluas 5 hektar. Lokasi penanaman difokuskan pada dua titik strategis: di kawasan hutan sosial dan di sepanjang jalan di atas pemukiman warga, mulai dari Lapangan Telajung hingga Gubug Klampok.

Kolaborasi Multi-Pihak

Semua yang terkait dengan antusias semangat, melakukan penghijauan dengan menanam pohon barang keras.
Semua yang terkait dengan antusias semangat, melakukan penghijauan dengan menanam pohon barang keras.

Yang membuat kegiatan ini istimewa adalah sinergi luar biasa antara masyarakat sipil, aparat keamanan, dan pengelola hutan. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Perum Perhutani, Pemerintah Desa Sumberjo, Babinsa (TNI), Bhabinkamtibmas (Polri), serta polisi hutan (Polsut). Keterlibatan berbagai pihak ini menandakan bahwa isu lingkungan telah menjadi prioritas bersama yang melampaui sektor-sektor formal.

LMDH ketika memberikan secara simbolis pohon buah Sukun kepada kepala Desa Sumberjo, sebagai tanda dimulainya penanaman pohon penyangga di lereng pemukiman warga masyarakat.
LMDH ketika memberikan secara simbolis pohon buah Sukun kepada kepala Desa Sumberjo, sebagai tanda dimulainya penanaman pohon penyangga di lereng pemukiman warga masyarakat.

Kepala Desa Sumberjo, Riyanto menekankan pentingnya rasa kepemilikan. “Pohon ini milik kita bersama. Kami berharap warga tidak hanya hadir saat menanam, tetapi juga rutin merawat dan menyiram, terutama saat musim kemarau. Program ini didanai secara swadaya melalui HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) dan LMDH. Ini adalah investasi jangka panjang untuk anak cucu kita.”

Menggantikan Peran Pinus

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/pelestarian-alamwarga-masyarakat-pandesari-tanam-2-000-pohon/

Salah satu narasi edukatif yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah upaya menggantikan peran ekologis pohon pinus yang mulai menua dan memasuki masa tebang. Selama ini, pinus identik dengan hutan Jawa. Namun, umurnya yang terbatas membuat kawasan rentan gundul. Nyamplung dan Sukun hadir sebagai pewaris estafet. Dengan akar tunjang yang lebih dalam dan umur produktif yang lebih panjang, kedua pohon ini diharapkan mampu meningkatkan debit mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.

Menariknya, di kawasan hutan sosial yang berada di ketinggian, warga sebenarnya telah lebih dulu mengelola tanaman produktif seperti kopi, alpukat, mangga, dan pisang secara berkelanjutan. Kini, lini kedua di sepanjang jalan dan pemukiman akan diperkuat dengan tanaman keras produktif. Ini membentuk sebuah struktur agroforestri yang ideal: lapisan atas untuk konservasi (Nyamplung), lapisan tengah untuk buah-buahan, dan lapisan bawah untuk tanaman semusim.

Harapan Menuju Ekowisata

Tampak gotong royong KTH, LMDH, BABINSA, Bhabinkamtibmas, masyarakat ketika penanaman pohon dilereng gunung banyak.
Tampak gotong royong KTH, LMDH, BABINSA, Bhabinkamtibmas, masyarakat ketika penanaman pohon dilereng gunung banyak.

Ke depan, Kepala Desa Sumberjo memiliki visi yang lebih besar. Kawasan yang hijau dan rimbun ini tidak hanya berfungsi sebagai zona penyangga bencana, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal. “Bayangkan jalanan teduh dengan deretan pohon Sukun dan Nyamplung yang rimbun. Ini bisa menjadi komoditas unggulan daerah untuk ekowisata edukasi,” jelasnya.

Pak Rai menegaskan komitmennya bahwa fungsi hutan tidak boleh dialihfungsikan. Melalui program Perhutanan Sosial, pihaknya akan terus menggelar kegiatan penghijauan berkelanjutan di seluruh area kerja di lereng Gunung Banyak. “Kami akan mengirimkan dokumentasi foto dan video untuk publikasi lebih lanjut. Informasi tentang tanaman bio-energi ini harus menyebar luas. Ini bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam masa depan,” pungkasnya.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Sebagai penutup, kegiatan pada 5 April 2026 ini menjadi bukti bahwa gerakan lingkungan yang sukses adalah gerakan yang membumi, melibatkan semua unsur masyarakat, dan berorientasi pada solusi jangka panjang. Dari Desa Sumberjo, sebuah narasi baru tentang harmoni antara manusia, hutan, dan ekonomi telah dimulai.

 

 

Penulis : Ria. 

Editor : Tim Redaksi. 

Array
Related posts
Tutup
Tutup