Musrenbang Junrejo 2026.Sinergi Fiskal dan Optimalisasi Potensi Lokal dalam Kerangka Pembangunan Partisipatif Menuju Batu SAE
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Pemerintah Kecamatan Junrejo bersama unsur Forkopimcam, DPRD Kota Batu, serta segenap pemangku kepentingan resmi menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027, Jumat (13/2/2026), bertempat di Balai Destro Oro-Oro Ombo, Kota Batu. Mengusung filosofi “Guyub Rukun, Sengkuyung Visi Misi Batu SAE” , forum ini menjadi instrumen strategis dalam menjaring aspirasi masyarakat sekaligus menyelaraskan kebijakan pembangunan dengan prinsip participatory planning dan akuntabilitas fiskal.*
Secara demografis, Kecamatan Junrejo yang terdiri atas enam desa dan satu kelurahan dengan total populasi mencapai 57.991 jiwa memiliki struktur kewilayahan yang kompleks, meliputi 23 dusun, 59 Rukun Warga (RW), dan 246 Rukun Tetangga (RT). Desa Pendem tercatat sebagai wilayah dengan populasi tertinggi (13.061 jiwa), sementara Desa Tlekung menjadi yang terendah (5.395 jiwa).

Dari aspek potensi ekonomi-lokal, Kecamatan Junrejo menampilkan spektrum keunggulan komparatif yang terdiferensiasi. Desa Tlekung mengembangkan wisata religi Petirtaan Kauman serta industri kreatif Batik Jambu Kristal. Desa Junrejo berfokus pada pengembangan kebun kelengkeng dan Kampung UMKM. Desa Mojorejo menginisiasi Kampung Sayur Organik, sementara Desa Torongrejo mengelola kawasan agrowisata Saung Tani dan cagar budaya Arca Ganesha. Desa Beji mengembangkan sentra produksi tempe, Desa Pendem mengelola destinasi Bumi Lumbung Pendem serta Situs Candi Pendem, dan Kelurahan Dadaprejo memproduksi batik, budidaya anggrek, serta kriya gerabah.

Camat Junrejo, Parman, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa Musrenbang kali ini merupakan kelanjutan dari proses Pra-Musrenbang yang telah dilaksanakan pada 4 Februari 2026. Forum tersebut menghasilkan skala super prioritas sebanyak 30 usulan dari desa/kelurahan dan satu usulan dari tingkat kecamatan.
“Tujuan utama Musrenbang mencakup tiga aspek fundamental, pertama, membahas dan menyepakati usulan prioritas pembangunan desa/kelurahan, kedua, menyelaraskan kegiatan prioritas dengan program kerja dinas teknis dan ketiga, mengelompokkan usulan berdasarkan tugas pokok dan fungsi perangkat daerah.” Jelas Camat Junrejo.

Kepala Bapelitbangda Kota Batu, Ir. Bangun Yulianto, dalam paparannya memaparkan realisasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp38,95 miliar yang dialokasikan untuk 165 paket kegiatan di Kecamatan Junrejo, dengan Desa Tlekung menjadi penerima tertinggi mencapai Rp13,46 miliar. Fokus anggaran meliputi perlindungan sosial, kesehatan, infrastruktur, dan penguatan ekonomi UMKM.
Untuk rencana tahun 2027, Bapelitbangda mencatat peningkatan signifikan partisipasi masyarakat dengan total 241 usulan, melonjak dari 113 usulan pada periode sebelumnya. Sektor ekonomi mendominasi dengan 37 usulan, diikuti sektor sosial budaya sebanyak 10 usulan. Desa Torongrejo tercatat sebagai wilayah dengan partisipasi tertinggi (89 usulan), disusul Desa Mojorejo (66 usulan) dan Desa Pendem (41 usulan).

Wakil DPRD Kota Batu Dapil Junrejo, Ludi Tanarto, menyoroti realitas fiskal yang menantang dengan adanya efisiensi anggaran sebesar Rp200 miliar pada APBD 2026. Ia menekankan pentingnya penerapan skala prioritas secara ketat untuk membedakan kebutuhan mendesak (needs) dari keinginan (wants). Lebih jauh, ia mengkritisi potensi apatisme masyarakat akibat ketidakjelasan tindak lanjut usulan Musrenbang.
“Kami mendorong Bapelitbangda untuk bersinergi dengan SKPD terkait dalam menyediakan peta jalan usulan yang transparan usulan yang diakomodir, ditunda, maupun tidak terdanai akibat keterbatasan anggaran harus dikomunikasikan secara jelas kepada camat, kepala desa, lurah, hingga lembaga kemasyarakatan,” tegas Ludi.
Ia juga mengapresiasi pentingnya inovasi pemerintah daerah untuk memperoleh tambahan Dana Insentif Daerah (DID) serta mendorong partisipasi pihak ketiga melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) guna menopang keterbatasan kapasitas fiskal daerah.

Wakil Wali Kota Batu, H. Heli Suyanto, S.H., M.H., dalam sambutan sekaligus arahanya menekankan pentingnya pendekatan place based development yang mengoptimalkan karakteristik unik setiap wilayah. Ia mengidentifikasi adanya diferensiasi ekonomi antara Kecamatan Bumiaji yang identik dengan sektor pertanian dan Kecamatan Junrejo yang memiliki keunggulan komparatif sebagai sentra UMKM.
“Junrejo ini sudah sangat dikenal dengan UMKM-nya. Jika diibaratkan, ini sudah berjalan 40 persen, tinggal kita dorong lagi infrastruktur dan ekosistem pendukungnya agar nilai tambah ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat,” ujar Heli Suyanto.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat serta memohon maaf apabila realisasi pembangunan tahun 2025 masih belum optimal. Dengan mengusung semangat “Junrejo Guyub Rukun”, ia berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi ruh dalam setiap tahapan pembangunan ke depan.
Bapelitbangda Kota Batu memaparkan langkah-langkah strategis pasca Musrenbang, meliputi konsultasi dengan SKPD teknis untuk verifikasi usulan dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), sinkronisasi usulan masyarakat dengan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD, serta pengiriman data usulan ke Sekretariat Dewan sebagai bahan referensi bersama guna mendukung realisasi hasil Musrenbang.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Rangkaian Musrenbang Kecamatan Junrejo tahun 2026 ini menjadi momentum krusial dalam memastikan pembangunan di Kota Batu berjalan pada rel yang terukur, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Dengan semangat gotong royong yang terejawantahkan dalam filosofi “Guyub Rukun, Sengkuyung Visi Misi Batu SAE”, seluruh elemen masyarakat berkomitmen untuk mengawal usulan prioritas menuju Musrenbang tingkat kota.
Pemerintah berharap dokumen perencanaan yang dihasilkan tidak hanya legitimate secara prosedural, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat serta mampu menjawab tantangan ekonomi di masa mendatang. Sinergi kolektif antara eksekutif, legislatif, dan elemen masyarakat menjadi determinan utama bagi terwujudnya Kota Batu yang madani, berkelanjutan, agrokreatif, terpadu, unggul, sinergi, akomodatif, dan ekologis menuju Generasi Emas 2045.
( Ria ).




